Yuk, Cari Tahu Sejarah Dan Pembuatan Dari Bir

Cairan berwarna kuning mengalir dari tong kayu besar ke sebuah gelas transparan. Di akhir tetesannya, ada busa-busa putih yang mengambang di atasnya. Ribuan gelembung udara yang menempel di sisi gelas menjadi daya tarik tersendiri dalam minuman ini. Orang-orang mengenalnya sebagai bir.

Bir adalah minuman hasil fermentasi dari bahan-bahan berpati, misalnya gandum. Setelah difermentasi, bir tidak disuling sehingga alkoholnya tidak terlalu terasa di tenggorokan. Dibandingkan wine, wiski dan lainnya, bir memiliki kandungan alkohol yang lebih rendah. Bir mengandung 4-5 persen saja. Sedangkan wine, memiliki kandungan alkohol berkisar 8-15 persen. Menurut catatan sejarah, bir diperkirakan minuman fermentasi tertua yang pernah dibuat. Berikut ini adalah sejarah adanya Bir.

Sejarah Bir

Bir datang pada abad ke-6 SM dan yang tercatat dalam sejarah tertulis Irak Kuno. Tulisan-tulisan Sumeria yang paling awal memiliki referensi tentang bir. Sebuah doa kepada Ninkasi dewi dikenal sebagai The Himne untuk Ninkasi berfungsi baik sebagai doa juga sebagai metode mengingat resep bir dalam suatu budaya dengan sedikit melek orang.

Di seluruh dunia, ada lebih dari 20.000 merek bir yang diolah dalam 180 cita rasa, mulai dari bir keras (ales), lagers, pilsner dan bir hitam sampai bir pahit, cream ales dan iced beers. Bir telah menjadi minuman terkenal sejak lama. Prasasti tanah liat di Babilon menjelaskan dengan rinci resep pembuatan bir di tahun 4.300 sebelum masehi. Bir juga telah dibuat oleh bangsa Cina kuno, Asiria dan Inka.

Sebuah tulisan di Mesir pada tahun 1600 sebelum masehi menuliskan 100 resep pengobatan dengan menggunakan bir. Beberapa tahun yang lalu, New Castle Brewery di Inggris mengolah 1.000 botol Tutankhamun Ale berdasarkan sebuah resep kuno yang telah berumur 3.200 tahun yang ditemukan di kuil matahari Ratu Nefertiti. Pembuatan bir secara komersil dimulai di tahun 1200 masehi di suatu tempat yang dikenal sebagai Jerman saat ini. Di tahun 1506, Undang-undang Jerman tentang kemurnian dikeluarkan, mensyaratkan bahwa kandungan bir adalah hanya air, barley (sejenis tumbuhan semacam gandum), gandum dan buah hop. Pembotolan bir dimulai di tahun 1605.

Proses pembuatan bir

Di Mesir kuno, pembuatan bir ada di mana-mana, dan bir adalah minuman yang digemari. Dalam penggalian arkeologis di sana ditemukan resep tertulis tertua untuk pembuatan bir. Teknologi pembuatan bir belakangan sampai ke Eropa. Beberapa sejarawan Romawi pada awal Tarikh Masehi menyebutkan bahwa orang Kelt, orang Jerman, dan suku-suku lain menikmati bir. Orang Viking percaya bahwa bahkan di Valhalla—balairung tempat peristirahatan terakhir bagi para ksatria yang pemberani, menurut mitologi Skandinavia—gelas mereka akan meluap dengan bir.

Selama Abad Pertengahan di Eropa, bir sering dibuat di biara-biara. Para biarawan Eropa memperbaiki teknologi pembuatannya, dengan memakai hop sebagai bahan pengawet. Sejak era industri pada abad ke-19, bir mulai dibuat dengan mesin, dan ini terbukti sebagai tonggak sejarah untuk minuman yang populer ini. Kemudian, muncul beberapa temuan ilmiah yang sangat penting.

Ahli kimia dan mikrobiologi asal Prancis Louis Pasteur menemukan bahwa ragi yang menyebabkan fermentasi bir terdiri dari organisme hidup. Berkat temuan itu, perubahan dari gula menjadi alkohol dapat diatur dengan lebih tepat. Botanikus asal Swedia Emil Christian Hansen menjadi salah seorang tokoh terpenting dalam sejarah pembuatan bir. Sepanjang hidupnya, ia meneliti dan menggolongkan berbagai jenis ragi. Risetnya antara lain berkaitan dengan pembiakan jenis ragi yang murni untuk pembuatan bir. Dengan cara ini, Hansen boleh dikatakan merevolusi industri pembuatan bir.

Tetapi, sesulit itukah pembuatan bir? Boleh jadi Anda tidak percaya, tetapi begitulah kenyataannya. Mari kita intip rahasia di balik segelas bir yang nikmat.

Perjalanannya Sampai ke Gelas Anda

Teknologi pembuatan bir mengalami perubahan yang cukup besar dari abad ke abad, dan bahkan dewasa ini setiap pembuat punya caranya sendiri. Tetapi, secara umum, hampir semua bir mengandung empat bahan dasar: barli, hop, air, dan ragi. Seluruh proses pembuatan bir dapat dibagi menjadi empat tahap: pembuatan malt, pengolahan wort, fermentasi, dan pematangan.

Pembuatan Malt : Selama tahap ini, barli disortir, ditimbang, dan dibersihkan. Setelah itu, barli direndam dalam air—tujuannya supaya barli itu berkecambah. Prosesnya memakan waktu antara lima dan tujuh hari pada suhu sekitar 14 derajat Celsius. Hasilnya adalah malt hijau, yang dipindahkan ke oven khusus untuk dikeringkan. Kadar air dalam malt hijau itu diturunkan hingga antara 2 dan 5 persen agar berhenti berkecambah. Setelah dikeringkan, kecambah dibuang dari butiran malt, lalu malt itu digiling. Kemudian, tahap berikut bisa dimulai.

Pengolahan wort : Malt yang telah digiling dicampur dengan air untuk menghasilkan adonan, yang kemudian dipanaskan perlahan-lahan. Pada suhu tertentu, enzim-enzimnya mulai mengubah sarinya menjadi gula sederhana. Tahap ini berlangsung lebih dari empat jam dan menghasilkan wort, yang kemudian disaring sampai bersih. Berikutnya adalah proses pendidihan, yang menghentikan kegiatan enzim. Selama dididihkan, hop ditambahkan ke dalam wort untuk menghasilkan rasa pahit bir yang khas. Setelah kira-kira dua jam dididihkan, wort didinginkan sampai suhu tertentu.

Fermentasi : Barangkali, inilah tahap terpenting dalam proses pembuatan bir. Dengan bantuan ragi, gula sederhana dalam wort diubah menjadi alkohol dan karbon dioksida. Lama fermentasi, yang berlangsung tidak lebih dari seminggu, dan suhu proses itu bergantung pada jenis bir—ale (bir keras) atau lager (bir ringan)—yang dihasilkan. Bir mentah itu kemudian dipindahkan ke dalam tangki-tangki di ruang penyimpanan bawah tanah untuk dimatangkan.

Pematangan : Selama tahap ini, terbentuklah rasa serta aroma bir yang khas dan juga gelembung-gelembung dari karbon dioksida. Bir mengalami pematangan selama suatu periode dari tiga minggu sampai beberapa bulan, bergantung pada jenis bir. Akhirnya, bir yang telah jadi itu dikemas dalam gentong atau botol dan siap dikirim ke tempat tujuan akhir—barangkali ke meja Anda juga! Tetapi, bir jenis apa yang ingin Anda cicipi?

Manfaat Bir Sebagai obat

Orang Babilonia dikatakan menggunakan bir untuk membayar upah. Di Mesir, bir dibuat secara komersial untuk digunakan oleh keluarga bangsawan dan menjadi salah satu syarat dalam upacara penguburan. Pada abad ketujuh, pembuatan bir bergeser dari skala kecil menjadi fasilitas pembuatan yang lebih besar di Eropa. Bir banyak digunakan oleh para penziarah.

Selama Abad Pertengahan, bir juga mulai digunakan untuk membayar persepuluhan, melakukan transaksi pembayaran, dan pajak. Kegunaan bir kini sudah mengalami pergeseran budaya. Di masa kini, banyak orang yang menyalahgunakan alkohol untuk mabuk-mabukan. Padahal, di zaman dulu bir disinyalir dibuat sebagai minuman obat.

Kegunaan bir sebagai minuman obat, kata Arie melanjutkan, terlihat dari tulisan di Mesir kuno yang diduga dibuat pada tahun 1600 Sebelum Masehi. “Tulisan Mesir ini berisi tentang 100 resep pengobatan dengan menggunakan bir,” ujar lulusan Beer Engineering di Technische Universitat Munchen, Jerman ini.

Selain itu, sebuah resep kuno yang sudah berusia tiga milenium yang ditemukan di kuil matahari Ratu Nefertiti. Resep ini pernah digunakan oleh New Castle Brewery di Inggris dan dijadikan 1000 botol bir yang diberinama Tuthankhamun Ale.

Resep ini ditemukan ketika arkeolog, Barry Kemp menggali makam sang Ratu Mesir di tahun 1990. Saat menggali, ia menemukan 10 ruang pembuatan bir yang terkubur di bawahnya. Masing-masing ruang diketahui meninggalkan jejak residu bir. Bir dari resep asli sang ratu awalnya dijual dengan harga US$ 7.686 (sekitar Rp 93 juta). Namun lama-lama harganya turun drastis menjadi US$ 75 atau sekitar Rp 907 ribu per botol.

Minuman Seribu Rupa

Sebenarnya, ada banyak sekali jenis bir. Anda dapat menikmati bir yang bening atau gelap, yang manis atau pahit, serta yang terbuat dari barli atau gandum. Rasa bir bergantung pada banyak faktor, mencakup mutu air yang dipakai, jenis malt, teknologi yang digunakan, dan ragi yang dipakai dalam prosesnya.

Salah satu bir yang paling terkenal ialah pilsener, lager klasik berwarna pucat. Bir yang satu ini dihasilkan oleh ratusan tempat pembuatan bir di seluruh dunia. Akan tetapi, bir pilsener yang tulen hanya dibuat di kota Plzeň, atau Pilsen, di Republik Ceko. Rahasia pembuatannya terletak tidak hanya pada teknologi tetapi juga pada bahan dasarnya—air yang kesadahannya rendah, malt yang bermutu tinggi, dan jenis ragi yang tepat.—Lihat kotak sisipan.

Bir lain yang juga berkualitas ialah weiss, bir gandum yang sangat disukai di Jerman. Bir khas Inggris adalah porter dan stout. Porter adalah bir keras yang terbuat dari malt yang disangrai dan difermentasi dengan jenis ragi yang mengambang, sehingga warnanya sangat gelap. Porter pertama kali dibuat di London pada abad ke-18. Pada mulanya, bir itu dibuat sebagai minuman ”bergizi” untuk para pekerja keras, seperti portir atau kuli barang. Stout, bir yang gelap pekat dan keras—yang menjadi terkenal di Irlandia dan dunia oleh keluarga Guinness—adalah variasi dari porter tradisional. Anda dapat merasakan sweet stout Inggris, biasanya mengandung laktosa (gula susu), atau dry stout Irlandia, yang rasanya pahit dan mengandung lebih banyak alkohol.

Faktor penting lainnya bagi banyak orang yang menikmati bir ialah bagaimana meminumnya, apakah langsung dari botol atau kaleng atau yang dikucurkan dari drum. Orang Amerika cenderung menyukai bir yang sangat dingin. Orang lain lebih suka bir bersuhu ruangan atau yang sedikit didinginkan dan langsung dihidangkan dari drum-drum yang disimpan dalam gudang di kedai bir.

Sesungguhnya, bir adalah minuman seribu rupa. Apabila diminum secara bersahaja, Anda dapat memperoleh manfaatnya yang menyehatkan. Sesungguhnya, bir mengandung berbagai vitamin dan mineral yang penting, seperti riboflavin, asam folat, kromium, dan zink. Menurut beberapa ahli, minum bir secara bersahaja dapat mencegah penyakit jantung dan gangguan kulit. Jika Anda menjatuhkan pilihan yang tepat dari antara berbagai merek dan jenis bir yang tersedia, dan jika Anda tidak meminumnya secara berlebihan, Anda pasti menikmati minuman yang lezat dan menyegarkan ini. Jadi, kali berikutnya Anda disuguhi segelas minuman keemasan yang bermahkotakan buih putih, ingatlah sejarahnya yang mempesonakan!

Nah, begitulah sejarah dan cara pembuatan dari minuman kuno ini. Apakah kalian pencinta dari minuman ini? Atau malah sebaliknya? Sekian artikel tentang sejarah dan cara pembuatan Bir, semoga bermanfaat.